Saturday, August 1, 2015

curhat

Perjalanan pertamaku...
Ya... Pertama kali kumeninggalkan tanah kelahiranku begitupun meninggalkanmu untuk pertama kalinya. Pertwmuan rerakhir saat itu.. Saat kedatanganmu menjemputku.. 

Tuesday, February 24, 2015

pantun cinta lucu

Setitik embun yang kuharap darimu
Meski lelah aku menunggu
Hanya cinta yang kumau
Dan itu harus untukku

Sunday, February 1, 2015

3 penyebab PUTUS CINTA


3 Efek Putus Cinta yang Membutuhkan Penanganan Psikolog


3 Efek Putus Cinta yang Membutuhkan Penanganan Psikolog oleh SegiEmpatKonflik yang berujung pada berakhirnya hubungan asmara yang dijalin seseorang bersama kekasihnya tentu saja akan menjadi suatu kondisi yang mengharuskan dirinya menghadapi masa-masa sulit pasca hubungjan asmara kedua kandas. Sebagian wanita mampu untuk kembali move on dari mantan kekasihnya. Meskipun demikian bagaimana kondisi bagi mereka kaum wanita yang tidak mampu move on dari sang mantan.
Wanita yang belum mampu move on dari masa lalu asmaranya dengan sang mantan tentu saja akan menghadapi beberapa kemungkinan. Stalking dengan kehidupan sang mantan tentang kehidupannya saat ini, mencari tahu kehidupannya dari teman sang mantan bahkan lantaran belum bisa move on, pada akhirnya ia pun masih saja menyandang status single hingga waktu yang lama. Tentu menjadi suatu masalah yang serius disaat wanita yang telah menginjak usia matang, belum mengakhiri masa lajang. Dapat dimungkinkan ia pun kelak akan menyandang status single tersebut selama-lamanya.
Pada wanita yang belum ammpu bangkit dari masa lalukehidupan asmaranya bersama sang mantan, tentu saja memiliki fakta yang berbeda-beda. Parahnya adalah putusnya hubungan beberapa dari mereka pada jalinan cinta yang pernah ia jalin dengan sang mantan membuatnya depresi. Depresi tentunya menjadi suatu kondisi yang membutuhkan perhatian yang serius dari segi psikis. Kondisi demikian tentu saja dikhawatirkan akan merusak mental bagi mereka yang mangalami putus cinta. Oleh karena itu, peran psikolog pada kondisi demikian tentunya sangat dibutuhkan untuk kembali memulihkan kondisi seseorang yang mengalami depresi pasca putus cinta.
Lantas kondisi apa saja selain depresi yang dirasakan wanita sehingga ia membutuhkan penanganan langsung secara psikis dari seorang psikolog? Salah seorang psikolog dibidang klinis yang sekaligus lulusan Master Psikologi, Universitas Indonesia, dan Master of Health Profession Education, Universitas New South Wales, Australia, Rosdiana Setyaningrum pun mengutarakan beberapa kondisi yang dialami wanita sehingga ia pun membutuhkan penanganan secara psikis dari psikolog. Berikut tiga kondisi yang merupakan efek yang ditunjukkan seseorang pasca putus cinta antara lain :
1. Masih Sedih Dalam Jangka Waktu yang Sudah Cukup Lama
Jika hubungan seseorang kandas, maka masa awal terlebih pada minggu pertama dan kedua menjadi waktu tersulit baginya yang tetap harus dihadapi. Sedih, berteriak dan menangis menjadi beberapa hal yang seringkali ditunjukkan wanita saat hubungan asmara mereka berakhir dengan sang mantan. Namun, jika kondisi demikian dirasakan oleh seorang wanita hingga dalam jangka waktu yang lama misalnya sudah setahun hubungan asmaranya berlalu dengan sang mantan dan ia pun merasa sedih. Maka kondisi demikian sudahlah harus dipandang sebagai suatu hal yang serius untuk ditangani.
“Sebenarnya tidak ada batasan karena setiap orang berbeda-beda, tapi mungkin kalau setahun lebih masih belum dapat menerimanya, bisa meminta bantuan psikolog,” ujarnya.
Hubungan asmara yang telah terbina cukup lama dengan sang mantan tentu saja dapat sulit untuk membuatnya lupa. Namun, jangka waktu yang cukup lama masih saja membuatnya bersedih sebaiknya membutuhkan pengilhaman secara piskis dari seorang psikolog. Terlebih jika pada kondisi demikian, Anda maupun kerabat Anda yang mengalaminya, maka baiknya Anda psikolog tentu mengetahui langkah terbaik untuk mengembalikan rasa percaya dirinya.
2. Menunjukkan Sikap yang Mengkhawatirkan
Emosi tentu menjadi ekspresi seseorang disaat mereka merasa sedih. Tentulah setiap orang memiliki karakter sehingga membuat mereka menunjukkan reaksi yang beragam pasca putus cinta. Move on ataupun tenggelam dalam rasa terpuruk adalah dua kemungkinan yang dihadapi wanita saat hubungan asmaranya berakhir. Jika pilihannya move on maka seseorang yang mampu melakukannya dapat menjadikan kegagalam kehidupan asmaranya sebagai suatu pengalaman dan pelajaran berharga baginya. Tentu dengan tujuan agar hubungan asmara yang kelak ia jalani dapat menjadi lebih baik dan lebih matang.
Namun jika seseorang berada pada kemungkinan yang kedua yaitu terpuruk maka dapat pula dimungkinkan seseorang akan menunjukkan sikap-sikap yang tentu tidak hanya merusak mentalnya melainkan dapat pula membuat mereka yang berada dalam lingkungannya menjadi tidak nyaman. Maka pada kondisi demikian, peranan psikolog sangatlah dibutuhkan. Misalnya seseorang yang mengalami putus cinta dan membawa pengaruh negatif pada dirinya misalnya dengan menggunakan narkoba ataupun mengkomsumsi minuman beralkohol ataupun membuatnya tidak lagi fokus pada pendidikan ataupun pekerjaannya. Maka pada kondisi demikian pula psikolog menjadi salah satu jalan keluar untuk membuatnya lebih baik. “Butuh bantuan psikolog juga dilihat sampai sejauh mana tingkah lakunya mengganggu kehidupan dan lingkungannya,” papar lulusan Master Psikologi, Universitas Indonesia, dan Master of Health Profession Education, Universitas New South Wales, Australia ini.
3. Depresi
Kemungkinan depresi bisa saja dapat dialami oleh setiap orang yang tidak bisa menerima dengan lapang dada berakhirnya jalinan asmara yang telah ia bangun dengan sang mantan kekasih. Pada kondisi ini, tentunya depresi menjadi suatu gejala yang membutuhkan perhatian yang serius. Bukan saja merusak mental, kondisi depresi yang semakin parah dapat memingkinkan seseorang menjadi lose kontrol bahkan dapat membuatnya menjadi ‘gila’. Sehingga pada tingkat demikian, depresi yang dialami seseorang pasca putus cinta haruslah mendapatkan penanganan sejak dini dari psikolog. Diana pun menuturkan seseorang yang mengalami depresi sebaiknya bisa mendapatkan penanganan langsung dari psikolog untuk meminimalisir segala kemungkinan buruk yang bisa saja dialami nantinya jika tidak diantisipasi sejak dini.

sumber: http://segiempat.com/asmara-cinta/serba-serbi-cinta/3-efek-putus-cinta-yang-membutuhkan-penanganan-psikolog/

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN MASA DEWASA


A.    Pengertian Kepribadian

Menurut Gordon w. allport, kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai system psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
David Krech dan Richard S.Cruchfield (1969) merumuskan definisi kepribadian sebagai berikut: kepribadian adalah integrasi dari semua karakteristik individu ke dalam suatu kesatuan yang unik yang menentukan, dan yang dimodifikasi oleh usaha-usahanya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah terus menerus.
Adolf Heuken S.J.dkk menyatakan kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang, baik yang jasmani, mental, rohani, emosional maupun yang social.
Berdasarkan definisi dari allport, Kretch dan Cruchfield, serta Heuken dapat disimpulkan pokok-pokok pengertian kepribadian sbb;
-          Kepribadian merupakan kesatuan yang kompleks, yang terdiri dari aspek psikis, seperti: inteligensi, sifat, sikap, minat, cita-cita, dst.
-          Kesatuan dari kedua aspek tersebut berinteraksi dengan lingkungannya yang mengalami perubahan secara terus menerus, dan terwujudlah pola tingkah laku yang khas atau unik.
-          Kepribadian bersifat dinamis, artinya selalu mengalami perubahan, tetapi dalam perubahan tersebut terdapat pola-pola yang bersifat tetap.
-          Kepribadian terwujud berkenaan dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh individu.
Macam-macam Teori Psikologi Kepribadian :
1. Piaget Tahapan Pengembangan Kognitif
Teori Jean Piaget tentang  perkembangan kognitif tetap salah satu yang paling sering dikutip dalam psikologi, meskipun menjadi subjek kritik yang cukup. Sementara banyak aspek teori tidak teruji oleh waktu, namun ide intinya tetap penting hari ini: anak-anak berpikir berbeda daripada orang dewasa. Pelajari lebih lanjut tentang teori Piaget terobosan dan kontribusi penting dibuat untuk pemahaman kita tentang pengembangan kepribadian.
Selain menjadi salah satu terbaik tahu pemikir di bidang pengembangan kepribadian, Sigmund Freud tetap salah satu yang paling kontroversial. Pada tahap teori terkenal tentang perkembangan psikoseksual, Freud menyarankan bahwa kepribadian berkembang secara bertahap yang berkaitan dengan zona erotis tertentu. Kegagalan untuk berhasil menyelesaikan tahap ini, ia menyarankan, akan menyebabkan masalah kepribadian di masa dewasa.
3. Freud Struktural Model Kepribadian
Konsep Freud tentang id, ego dan superego telah menjadi terkenal dalam budaya populer, meski kurangnya dukungan dan skeptisisme besar dari banyak peneliti. Menurut Freud, tiga unsur dari kepribadian-yang dikenal sebagai id, ego, dan superego-bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks.
4. Erikson Tahapan Pembangunan Psikososial
Teori Erik Erikson tentang delapan tahap perkembangan manusia adalah salah satu teori terbaik yang dikenal dalam psikologi. Sementara teori didasarkan pada tahapan Freud tentang perkembangan psikoseksual, Erikson memilih untuk fokus pada pentingnya hubungan sosial pada pengembangan kepribadian. Teori ini juga melampaui masa kanak-kanak untuk melihat perkembangan di seluruh umur.
5. Kohlberg Tahapan Pembangunan Moral
Lawrence Kohlberg mengembangkan teori pengembangan psikologi kepribadian yang berfokus pada pertumbuhan pemikiran moral. Bangunan pada proses dua-tahap yang diusulkan oleh Piaget, Kohlberg memperluas teori untuk meliputi enam tahapan yang berbeda. Sementara teori tersebut telah dikritik karena beberapa alasan yang berbeda, termasuk kemungkinan bahwa ia tidak mengakomodasi jenis kelamin yang berbeda dan budaya yang sama, teori Kohlberg tetap penting dalam pemahaman kita tentang pengembangan psikologi kepribadian.
B.     Pengertian Masa Dewasa
Istilah adult berasal dari kata kerja Latin, seperti juga istilah adolescene – adolescere – yang berarti “tumbuh menjadi kedewasaan”. Akan tetapi, kata adult berasal dari bentuk lampau partisipel dari kata kerja adultus yang berarti “telah tumbuh mnjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna” atau “telah menjadi dewasa”. Oleh karena itu,orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhanya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya.
Setiap kebudayaan membuat pembedaan usia kapan seseorang mencapai status dewasa secara resmi.
Ciri-ciri Masa Dewasa Dini
  1. Masa dewasa dini sebagai “masa pengaturan”
  2. Masa Dewasa Dini sebagai “Usia Produktif”
  3. Masa Dewasa Dini sebagai “Masa Bermasalah”
  4. Masa Dewasa Dini sebagai Masa Ketegangan Emosional
  5. Masa Dewasa Dini sebagai Masa Keterasingan Sosial
  6. Masa Dewasa Dini sebagai Masa Komitmen
  7. Masa Dewasa Dini Sing Merupakan Masa Ketergantungan
  8. Masa Dewasa Dini sebagai Masa Perubahan Nilai
  9. Masa Dewasa Dini Sebagai Masa Penyesuaian Diri Dengan CaraHidup Baru
  10. Masa Dewasa Dini sebagai Masa Kreatif
Perkembangan Masa Dewasa Berdasarkan Teori Perkembangan Manusia Menurut Erikson ( Psikososial )
·          Keintiman vs Isolasi
Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap individu akan memasuki jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya.
Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. Periode diperlihatkan dengan adanya hubungan spesial dengan orang lain yang biasanya disebut dengan istilah pacaran guna memperlihatkan dan mencapai kelekatan dan kedekatan dengan orang lain. Di mana muatan pemahaman dalam kedekatan dengan orang lain mengandung arti adanya kerja sama yang terjalin dengan orang lain. Akan tetapi, peristiwa ini akan memiliki pengaruh yang berbeda apabila seseorang dalam tahap ini tidak mempunyai kemampuan untuk menjalin relasi dengan orang lain secara baik sehingga akan tumbuh sifat merasa terisolasi. Erikson menyebut adanya kecenderungan maladaptif yang muncul dalam periode ini ialah rasa cuek, di mana seseorang sudah merasa terlalu bebas, sehingga mereka dapat berbuat sesuka hati tanpa memperdulikan dan merasa tergantung pada segala bentuk hubungan misalnya dalam hubungan dengan sahabat, tetangga, bahkan dengan orang yang kita cintai/kekasih sekalipun. Sementara dari segi lain/malignansi Erikson menyebutnya dengan keterkucilan, yaitu kecenderungan orang untuk mengisolasi/menutup diri sendiri dari cinta, persahabatan dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa benci dan dendam sebagai bentuk dari kesendirian dan kesepian yang dirasakan.
Oleh sebab itu, kecenderungan antara keintiman dan isoalasi harus berjalan dengan seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta. Dalam konteks teorinya, cinta berarti kemampuan untuk mengenyampingkan segala bentuk perbedaan dan keangkuhan lewat rasa saling membutuhkan. Wilayah cinta yang dimaksudkan di sini tidak hanya mencakup hubungan dengan kekasih namun juga hubungan dengan orang tua, tetangga, sahabat, dan lain-lain.
Ritualisasi yang terjadi pada tahan ini yaitu adanya afiliasi dan elitisme. Afilisiasi menunjukkan suatu sikap yang baik dengan mencerminkan sikap untuk mempertahankan cinta yang dibangun dengan sahabat, kekasih, dan lain-lain. Sedangkan elitisme menunjukkan sikap yang kurang terbuka dan selalu menaruh curiga terhadap orang lain.
·         Generativitas vs Stagnasi
Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity-stagnation. Sesuai dengan namanya masa dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal– hal tertentu ia mengalami hambatan.
Apabila pada tahap pertama sampai dengan tahap ke enam terdapat tugas untuk dicapai, demikian pula pada masa ini dan salah satu tugas untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi). Generativitas adalah perluasan cinta ke masa depan. Sifat ini adalah kepedulian terhadap generasi yang akan datang. Melalui generativitas akan dapat dicerminkan sikap memperdulikan orang lain. Pemahaman ini sangat jauh berbeda dengan arti kata stagnasi yaitu pemujaan terhadap diri sendiri dan sikap yang dapat digambarkan dalam stagnasi ini adalah tidak perduli terhadap siapapun.
Maladaptif yang kuat akan menimbulkan sikap terlalu peduli, sehingga mereka tidak punya waktu untuk mengurus diri sendiri. Selain itu malignansi yang ada adalah penolakan, di mana seseorang tidak dapat berperan secara baik dalam lingkungan kehidupannya akibat dari semua itu kehadirannya ditengah-tengah area kehiduannya kurang mendapat sambutan yang baik.
Harapan yang ingin dicapai pada masa ini yaitu terjadinya keseimbangan antara generativitas dan stagnansi guna mendapatkan nilai positif yang dapat dipetik yaitu kepedulian. Ritualisasi dalam tahap ini meliputi generasional dan otoritisme. Generasional ialah suatu interaksi/hubungan yang terjalin secara baik dan menyenangkan antara orang-orang yang berada pada usia dewasa dengan para penerusnya. Sedangkan otoritisme yaitu apabila orang dewasa merasa memiliki kemampuan yang lebih berdasarkan pengalaman yang mereka alami serta memberikan segala peraturan yang ada untuk dilaksanakan secara memaksa, sehingga hubungan diantara orang dewasa dan penerusnya tidak akan berlangsung dengan baik dan menyenangkan.
·         Integritas vs Keputusasaan
Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang diduduki oleh orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya
Dalam teori Erikson, orang yang sampai pada tahap ini berarti sudah cukup berhasil melewati tahap-tahap sebelumnya dan yang menjadi tugas pada usia senja ini adalah integritas dan berupaya menghilangkan putus asa dan kekecewaan. Tahap ini merupakan tahap yang sulit dilewati menurut pemandangan sebagian orang dikarenakan mereka sudah merasa terasing dari lingkungan kehidupannya, karena orang pada usia senja dianggap tidak dapat berbuat apa-apa lagi atau tidak berguna. Kesulitan tersebut dapat diatasi jika di dalam diri orang yang berada pada tahap paling tinggi dalam teori Erikson terdapat integritas yang memiliki arti tersendiri yakni menerima hidup dan oleh karena itu juga berarti menerima akhir dari hidup itu sendiri. Namun, sikap ini akan bertolak belakang jika didalam diri mereka tidak terdapat integritas yang mana sikap terhadap datangnya kecemasan akan terlihat. Kecenderungan terjadinya integritas lebih kuat dibandingkan dengan kecemasan dapat menyebabkan maladaptif  yang biasa disebut Erikson berandai-andai, sementara mereka tidak mau menghadapi kesulitan dan kenyataan di masa tua. Sebaliknya, jika kecenderungan kecemasan lebih kuat dibandingkan dengan integritas maupun secara malignansi yang disebut dengan sikap menggerutu, yang diartikan Erikson sebagai sikap sumaph serapah dan menyesali kehidupan sendiri. Oleh karena itu, keseimbangan antara integritas dan kecemasan itulah yang ingin dicapai dalam masa usia senja guna memperoleh suatu sikap kebijaksanaan.
Daftar Pustaka
Farozin, H.M. Dan Fathiyah, Kartika Nur. (2004) Pemahaman Tingkah Laku. Jakarta : Rhineka      
      Cipta.
Heuken, Adolf S.J. (1979) Tantangan Membina Kepribadian : Pedoman Mengenal Diri.
      Kanisius : Yogyakarta
Koeswara, E. (2001) Teori-teori Kepribadian. Bandung Eresco.

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN MASA DEWASA


A.    Pengertian Kepribadian

Menurut Gordon w. allport, kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai system psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
David Krech dan Richard S.Cruchfield (1969) merumuskan definisi kepribadian sebagai berikut: kepribadian adalah integrasi dari semua karakteristik individu ke dalam suatu kesatuan yang unik yang menentukan, dan yang dimodifikasi oleh usaha-usahanya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah terus menerus.
Adolf Heuken S.J.dkk menyatakan kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang, baik yang jasmani, mental, rohani, emosional maupun yang social.
Berdasarkan definisi dari allport, Kretch dan Cruchfield, serta Heuken dapat disimpulkan pokok-pokok pengertian kepribadian sbb;
-          Kepribadian merupakan kesatuan yang kompleks, yang terdiri dari aspek psikis, seperti: inteligensi, sifat, sikap, minat, cita-cita, dst.
-          Kesatuan dari kedua aspek tersebut berinteraksi dengan lingkungannya yang mengalami perubahan secara terus menerus, dan terwujudlah pola tingkah laku yang khas atau unik.
-          Kepribadian bersifat dinamis, artinya selalu mengalami perubahan, tetapi dalam perubahan tersebut terdapat pola-pola yang bersifat tetap.
-          Kepribadian terwujud berkenaan dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh individu.
Macam-macam Teori Psikologi Kepribadian :
1. Piaget Tahapan Pengembangan Kognitif
Teori Jean Piaget tentang  perkembangan kognitif tetap salah satu yang paling sering dikutip dalam psikologi, meskipun menjadi subjek kritik yang cukup. Sementara banyak aspek teori tidak teruji oleh waktu, namun ide intinya tetap penting hari ini: anak-anak berpikir berbeda daripada orang dewasa. Pelajari lebih lanjut tentang teori Piaget terobosan dan kontribusi penting dibuat untuk pemahaman kita tentang pengembangan kepribadian.
Selain menjadi salah satu terbaik tahu pemikir di bidang pengembangan kepribadian, Sigmund Freud tetap salah satu yang paling kontroversial. Pada tahap teori terkenal tentang perkembangan psikoseksual, Freud menyarankan bahwa kepribadian berkembang secara bertahap yang berkaitan dengan zona erotis tertentu. Kegagalan untuk berhasil menyelesaikan tahap ini, ia menyarankan, akan menyebabkan masalah kepribadian di masa dewasa.
3. Freud Struktural Model Kepribadian
Konsep Freud tentang id, ego dan superego telah menjadi terkenal dalam budaya populer, meski kurangnya dukungan dan skeptisisme besar dari banyak peneliti. Menurut Freud, tiga unsur dari kepribadian-yang dikenal sebagai id, ego, dan superego-bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks.
4. Erikson Tahapan Pembangunan Psikososial
Teori Erik Erikson tentang delapan tahap perkembangan manusia adalah salah satu teori terbaik yang dikenal dalam psikologi. Sementara teori didasarkan pada tahapan Freud tentang perkembangan psikoseksual, Erikson memilih untuk fokus pada pentingnya hubungan sosial pada pengembangan kepribadian. Teori ini juga melampaui masa kanak-kanak untuk melihat perkembangan di seluruh umur.
5. Kohlberg Tahapan Pembangunan Moral
Lawrence Kohlberg mengembangkan teori pengembangan psikologi kepribadian yang berfokus pada pertumbuhan pemikiran moral. Bangunan pada proses dua-tahap yang diusulkan oleh Piaget, Kohlberg memperluas teori untuk meliputi enam tahapan yang berbeda. Sementara teori tersebut telah dikritik karena beberapa alasan yang berbeda, termasuk kemungkinan bahwa ia tidak mengakomodasi jenis kelamin yang berbeda dan budaya yang sama, teori Kohlberg tetap penting dalam pemahaman kita tentang pengembangan psikologi kepribadian.
B.     Pengertian Masa Dewasa
Istilah adult berasal dari kata kerja Latin, seperti juga istilah adolescene – adolescere – yang berarti “tumbuh menjadi kedewasaan”. Akan tetapi, kata adult berasal dari bentuk lampau partisipel dari kata kerja adultus yang berarti “telah tumbuh mnjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna” atau “telah menjadi dewasa”. Oleh karena itu,orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhanya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya.
Setiap kebudayaan membuat pembedaan usia kapan seseorang mencapai status dewasa secara resmi.
Ciri-ciri Masa Dewasa Dini
  1. Masa dewasa dini sebagai “masa pengaturan”
  2. Masa Dewasa Dini sebagai “Usia Produktif”
  3. Masa Dewasa Dini sebagai “Masa Bermasalah”
  4. Masa Dewasa Dini sebagai Masa Ketegangan Emosional
  5. Masa Dewasa Dini sebagai Masa Keterasingan Sosial
  6. Masa Dewasa Dini sebagai Masa Komitmen
  7. Masa Dewasa Dini Sing Merupakan Masa Ketergantungan
  8. Masa Dewasa Dini sebagai Masa Perubahan Nilai
  9. Masa Dewasa Dini Sebagai Masa Penyesuaian Diri Dengan CaraHidup Baru
  10. Masa Dewasa Dini sebagai Masa Kreatif
Perkembangan Masa Dewasa Berdasarkan Teori Perkembangan Manusia Menurut Erikson ( Psikososial )
·          Keintiman vs Isolasi
Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap individu akan memasuki jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya.
Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri. Periode diperlihatkan dengan adanya hubungan spesial dengan orang lain yang biasanya disebut dengan istilah pacaran guna memperlihatkan dan mencapai kelekatan dan kedekatan dengan orang lain. Di mana muatan pemahaman dalam kedekatan dengan orang lain mengandung arti adanya kerja sama yang terjalin dengan orang lain. Akan tetapi, peristiwa ini akan memiliki pengaruh yang berbeda apabila seseorang dalam tahap ini tidak mempunyai kemampuan untuk menjalin relasi dengan orang lain secara baik sehingga akan tumbuh sifat merasa terisolasi. Erikson menyebut adanya kecenderungan maladaptif yang muncul dalam periode ini ialah rasa cuek, di mana seseorang sudah merasa terlalu bebas, sehingga mereka dapat berbuat sesuka hati tanpa memperdulikan dan merasa tergantung pada segala bentuk hubungan misalnya dalam hubungan dengan sahabat, tetangga, bahkan dengan orang yang kita cintai/kekasih sekalipun. Sementara dari segi lain/malignansi Erikson menyebutnya dengan keterkucilan, yaitu kecenderungan orang untuk mengisolasi/menutup diri sendiri dari cinta, persahabatan dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa benci dan dendam sebagai bentuk dari kesendirian dan kesepian yang dirasakan.
Oleh sebab itu, kecenderungan antara keintiman dan isoalasi harus berjalan dengan seimbang guna memperoleh nilai yang positif yaitu cinta. Dalam konteks teorinya, cinta berarti kemampuan untuk mengenyampingkan segala bentuk perbedaan dan keangkuhan lewat rasa saling membutuhkan. Wilayah cinta yang dimaksudkan di sini tidak hanya mencakup hubungan dengan kekasih namun juga hubungan dengan orang tua, tetangga, sahabat, dan lain-lain.
Ritualisasi yang terjadi pada tahan ini yaitu adanya afiliasi dan elitisme. Afilisiasi menunjukkan suatu sikap yang baik dengan mencerminkan sikap untuk mempertahankan cinta yang dibangun dengan sahabat, kekasih, dan lain-lain. Sedangkan elitisme menunjukkan sikap yang kurang terbuka dan selalu menaruh curiga terhadap orang lain.
·         Generativitas vs Stagnasi
Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity-stagnation. Sesuai dengan namanya masa dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal– hal tertentu ia mengalami hambatan.
Apabila pada tahap pertama sampai dengan tahap ke enam terdapat tugas untuk dicapai, demikian pula pada masa ini dan salah satu tugas untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi). Generativitas adalah perluasan cinta ke masa depan. Sifat ini adalah kepedulian terhadap generasi yang akan datang. Melalui generativitas akan dapat dicerminkan sikap memperdulikan orang lain. Pemahaman ini sangat jauh berbeda dengan arti kata stagnasi yaitu pemujaan terhadap diri sendiri dan sikap yang dapat digambarkan dalam stagnasi ini adalah tidak perduli terhadap siapapun.
Maladaptif yang kuat akan menimbulkan sikap terlalu peduli, sehingga mereka tidak punya waktu untuk mengurus diri sendiri. Selain itu malignansi yang ada adalah penolakan, di mana seseorang tidak dapat berperan secara baik dalam lingkungan kehidupannya akibat dari semua itu kehadirannya ditengah-tengah area kehiduannya kurang mendapat sambutan yang baik.
Harapan yang ingin dicapai pada masa ini yaitu terjadinya keseimbangan antara generativitas dan stagnansi guna mendapatkan nilai positif yang dapat dipetik yaitu kepedulian. Ritualisasi dalam tahap ini meliputi generasional dan otoritisme. Generasional ialah suatu interaksi/hubungan yang terjalin secara baik dan menyenangkan antara orang-orang yang berada pada usia dewasa dengan para penerusnya. Sedangkan otoritisme yaitu apabila orang dewasa merasa memiliki kemampuan yang lebih berdasarkan pengalaman yang mereka alami serta memberikan segala peraturan yang ada untuk dilaksanakan secara memaksa, sehingga hubungan diantara orang dewasa dan penerusnya tidak akan berlangsung dengan baik dan menyenangkan.
·         Integritas vs Keputusasaan
Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang diduduki oleh orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya
Dalam teori Erikson, orang yang sampai pada tahap ini berarti sudah cukup berhasil melewati tahap-tahap sebelumnya dan yang menjadi tugas pada usia senja ini adalah integritas dan berupaya menghilangkan putus asa dan kekecewaan. Tahap ini merupakan tahap yang sulit dilewati menurut pemandangan sebagian orang dikarenakan mereka sudah merasa terasing dari lingkungan kehidupannya, karena orang pada usia senja dianggap tidak dapat berbuat apa-apa lagi atau tidak berguna. Kesulitan tersebut dapat diatasi jika di dalam diri orang yang berada pada tahap paling tinggi dalam teori Erikson terdapat integritas yang memiliki arti tersendiri yakni menerima hidup dan oleh karena itu juga berarti menerima akhir dari hidup itu sendiri. Namun, sikap ini akan bertolak belakang jika didalam diri mereka tidak terdapat integritas yang mana sikap terhadap datangnya kecemasan akan terlihat. Kecenderungan terjadinya integritas lebih kuat dibandingkan dengan kecemasan dapat menyebabkan maladaptif  yang biasa disebut Erikson berandai-andai, sementara mereka tidak mau menghadapi kesulitan dan kenyataan di masa tua. Sebaliknya, jika kecenderungan kecemasan lebih kuat dibandingkan dengan integritas maupun secara malignansi yang disebut dengan sikap menggerutu, yang diartikan Erikson sebagai sikap sumaph serapah dan menyesali kehidupan sendiri. Oleh karena itu, keseimbangan antara integritas dan kecemasan itulah yang ingin dicapai dalam masa usia senja guna memperoleh suatu sikap kebijaksanaan.
Daftar Pustaka
Farozin, H.M. Dan Fathiyah, Kartika Nur. (2004) Pemahaman Tingkah Laku. Jakarta : Rhineka      
      Cipta.
Heuken, Adolf S.J. (1979) Tantangan Membina Kepribadian : Pedoman Mengenal Diri.
      Kanisius : Yogyakarta
Koeswara, E. (2001) Teori-teori Kepribadian. Bandung Eresco.

Jenis Jenis Cinta


Pengertian Cinta

Berbicara mengenai cinta pasti kita tidak asing lagi karena kata-kata tersebut selalu terngiang-ngiang ditelinga kita, misalkan saja ketika kita mendengarkan radio, pasti ada lagu yang mendendangkan tentang cinta atau ketika kita baca buku atau novel, pasti kita lebih suka tema tentang percintaan dan itu adalah hal yang wajar karena pada usia puber inilah masa dimana seseorang mulai tertarik dengan lawan jenis dan hal itu selalu dikaitkan dengan cinta.
Pengertian Cinta
Pengertian cinta itu sendiri sulit dibedakan batasan ataupun pengertiannya, karena cinta merupakan salah satu bentuk emosi dan perasaan yang dimiliki individu. Dan sifatnyapun subyektif sehingga setiap individu akan mempunyai makna yang berbeda tergantung pada penghayatan serta pengalamannya.
Jenis-jenis Cinta
Jenis-Jenis Cinta menurut Kelly dalam buku kesehatan reproduksi remaja membagi cinta itu menjadi 3 jenis yaitu:
1.  Cinta karena nafsu
Yaitu cinta yang mengakibatkan hubungan antar dua orang tidak terkontrol lagi, emosi sangat menguasai akal sehat seseorang sehingga perilaku seolah terjadi secara spontan untuk menjawab rangsangan emosi yang berlebihan
2.   Cinta pragmatis
yaitu cinta terjadi keseimbangan antara dua orang, ada rasa suka dan duka, serta  adanya timbal balik.
3.   Cinta altruistik
biasanya terjadi pada seorang ibu kepada anaknya, cinta ini disertai kasih sayang yang tidak ada batasnya.
Cinta itu berada pada ranah emosional dan rasional. Cinta emosional ini datang dan pergi tanpa diprediksi,misalkan: aku mencintaimu pada pandangan pertama, meski aku tak bahagia bersamanya aku tetap mencintainya dll.
Ciri-ciri cinta emosional
Adanya perasaan yang sangat kuat, normalnya diarahkan pada lawan jenis, dimana yang ada pada pikiran serta hati adalah bayangan kekasihnya
Adanya egoisme, biasanya ada harapan-harapan bahwa kekasihnya adalah ideal yang ada dipikirannya dan merasa kecewa kalau kekasihnya berbeda dengan apa yang ia harapkan
Cinta emosional mengandung unsur erotisme,yang biasanya ingin mengungkapkan rasa cintanya dengan berpegangan tangan, berpelukan dll. Sedangkan cinta rasional tidak didominasi oleh perasaan yang kuat tetapi lebih pada akal pikiran. Cinta rasional ini biasanya tidak peduli apakah perasaannya kepada seseorang yang dikuasai ini dibalas atau tidak, karena ciri utama dari cinta ini adalah memberi tanpa pamrih dan tanpa syarat.
Reaksi Psikologis Dan Fisiologis Pada Saat Muncul Cinta
Ketika orang lagi kasmaran, maka dalam tubuhnya akan memproduksi hormon Phenthylamine ( PEA), efeknya adalah terjadi peningkatan suhu tubuh, gula dan tekanan darah, denyut jantung akan lebih cepat dan berkeringat, orang tersebut juga menjadi penasaran, salah tingkah, bergairah (bersemangat), dan gembira.
Tanda- tanda Cinta
Cinta merupakan hal yang sangat subyektif, satu orang dengan orang lainnya akan memaknakan secara berbeda. Namun ada tanda-tanda yang menunjukkan adanya perasaan cinta:
1.  ada unsur keterkaitan dan kekaguman
biasanya cinta didahului oleh rasa ketertarikan dan kekaguman, baik itu karena penampilan fisik, sifat, kemampuan atau materi. Hal mana yang menjadikan seseorang itu tertarik tiap orang itu berbeda-bada.
2.  teringat terus dalam ingatan
perasaan cinta membuat bayangan tentang orang yang dicintainya selalu ada dalam ingatan.
3.  adanya pengorbanan
perasaan cinta menimbulkan perasaan ingin berbuat apa saja yang dapat membahagiakan dan menyenangkan orang yang dicintai
4.  adanya ketertarikan seksual biasanya muncul rasa ingin selalu bertemu serta keinginan untuk bersentuhan secara fisik
Arti Cinta Pada Pandangan Pertama
Cinta pada pandangan pertama ini baru pada tahap persona pada ketertarikan fisik saja. Cinta ini digolongkan dalam passionate love yang ditandai oleh rasa rindu yang hebat untuk bertemu. Ketertarikan pada pandangan pertama ini bisa berubah dan berkembang menjadi cinta, tapi harus diikuti oleh proses selanjutnya yaitu perkenalan dan penjajakan.
Beda Cinta Dan Sayang Pengertian Cinta
Biasanya masyarakat membedakan cinta ini lebih pada lawan jenis (pacar  atau suami), sementara sayang itu berlaku secara umum (orang tua, saudara)
Dampak Cinta Dalam Kehidupan Remaja
Cinta merupakan hal yang normal, bahkan remaja seringkali bertanya-tanya apakah dirinya normal. Cinta juga menambah keceriaan dalam kehidupan manusia dan penuh dengan nuansa emosi dan perasaan (benci, sedih, sayang, rindu, kesal dll).
Dampak cinta itu sendiri adalah:
merubah perilaku yang progesif. Perasaan cinta kadang memotifasi seseorang untuk bertingkah laku lebih baik
perubahan perilaku regresif yaitu perasaan yang selalu tergantung pada orang lain
belajar mengenal dan menerima orang lain ( kelebihan dan kekurangan serta perbedaan yang ada)
banyak berfantasi (melamun)
Cemburu
Cemburu biasanya diperlihatkan oleh seseorang pada saat seseorang merasa perhatian pasangannya beralih kepada yang lain. Cemburu biasanya merupakan tanda cinta bersyarat dan egoisme, tanda kurang percaya diri dan penghargaan diri.