Friday, September 26, 2014

CERPEN ROMANTIS TERBARU


JALAN CINTAKU....!!!!
Karya Rahayu Nur Rahmawati

Gelak tawa dan kebersamaan ini telah terjadi sejak dulu, sejak kita masih kanak-kanak. Kita adalah sahabat, kita tlah seperti saudara, begitu dekat, dan mengerti satu sama lain. Sebut saja dia dengan nama Rama. Tak ada sedikitpun angan yang terlintas difikiran ku tuk merasakan cintanya, semua tlah berubah saat kita beranjak dewasa, disaat kita tlah mengenal apa itu arti sebuah kebersamaan yang didampingi dengan cinta. Saat dia mengatakan ingin mendampingi aku bukan sebagai sahabat ataupun saudara, sungguh tak pernah ku sangka, bimbang ku rasakan. Tapi, ku tak mau membuatnya terluka atau kecewa, ku putuskan untuk menerima permintaannya itu. Sejak saat itu, ada kebimbangan dalam hatiku, apakah ini semua keputusan yang benar, di satu sisi aku tak mau mengecewakan Rama, tapi di satu sisi dia baru saja mengakhiri hubungannya dengan salah seorang sahabatku sendiri, Reina. Hubungan ku ini, awalnya tak ada yang mengetahui, hanya aku dan Rama. Tapi, seiring berjalannya waktu, semuanya tahu, beegitupun Reina, awalnya aku takut jikalau dia marah dan membenciku. Tapi ternyata dia tak mengapa, dia tak marah ataupun benci kepadaku. Hubungan ku dengan Rama, awalnya baik-baik saja, tapi semenjak kita tak lagi satu sekolah, saat kita memilih sekolah yang berbeda, hubungan ku semakin jauh, dan aku merasa kita tlah jauh. Saat itu ku akui, hatiku tlah berpaling, dan setelah ku mengetahui hatinya juga tlah berpaling kepada yang lain, ku putuskan mengakhiri hubungan ini.
‘’ mungkin ini memang jalan terbaik buat kita berdua, kita memang tak bisa satu, sudah tak ada lagi kecocokan dalam hubungan kita, jadi lebih baik kita berhenti cukup sampai disini”


Sebait pesanku ini diterimanya, dan dia menyetujui keputusan ku ini. Sejak saat itu, aku menjalin hubungan dengan orang lain. Saat ini kumerasa sangat bahagia, orang tua ku memberi restu terhadap hubungan ku dengan orang ini, sebut saja Adrian. Aku serasa tak mau melepas dia, ku selalu berharap hubungan ini tak berakhir sia-sia. Tapi takdir berkata lain, Adrian meninggalkan aku dengan sebuah luka, hatinya berpaling. Tak kusangka begitu pahit ini semua bagiku, tak kusangka dirinya tega khianati ku. Ku terpuruk dalam kepedihan, tak sanggup rasanya ku tuk bangkit dari semua kenyataan pahit ini.
‘’ jika memang kita harus berpisah, aku tlah menemukan seseorang yang lebih mencintaimu dari pada aku “
Pesannya ini, sampai sekarang tak ku mengerti, tak tau siapa yang dia maksud. Selau ku coba melupakan dan menepis bayang-bayangnya dalam hidupku, tapi sungguh begitu sulit ku rasa. Sakit ini semakin terasa, disaat dia tak mau menyapaku, bahkan menyebut nama ku saja sudah tak pernah ia lakukan.

Beberapa bulan berselang, Rama kembali mendekatiku bukan sebagai sahabat.
‘’ aku menyadari bahwa selama ini aku hanya menyayangi dirimu, meski ku tlah lewati hari dengan hati yang lain, tapi tak pernah ku rasakan sayang seperti dirimu’’

Ucapannya tak cukup mampu buatku luluh, dan aku katakan tak ingin menjalin hubungan yang seperti dulu.
‘’kita lebih baik jadi seorang sahabat, kita tak mungkin bisa menjalaini hubungan seperti dulu, aku sayang kamu sebagai sahabat ku “

Tak pernah ku fikirkan akibat perkataanku itu, menyakitinya atau mengecewakannya, aku tak tahu. Yang aku tahu, aku melakukan semua ini demi persahabatan ku dengan dia. Tak pernah dia menyerah tuk meluluhkan hatiku, selalu ia memanjakan dan memberi perhatian penuh terhadapku. Selalu ia berusaha tuk meyakinkanku, bahwa ia kan selau buatku bahagia.
‘’ aku sangat menyayangimu, beriku kesempatan satu kali lagi, tuk menghapus kesalahan ku dimasa lalu, aku berjanji tak kan khianatimu, tak kan ku buatmu sakit, percayalah padaku bahwa kasih dan sayangku buat kamu itu tulus’’

Kata-katanya itu, kian lama buat ku luluh terhadapnya. Hingga pada akhirnya ku putuskan kembali tuk mencoba menjalin hubungan spesial dengan Rama.
‘’ ku coba mempercayaimu lagi, ku beri kau kesempatan dan ku percaya semua kata-katamu, aku mohon jangan sakiti dan khianati diriku ini’’
Tanggal 17 januari 2012, kita menjalin hubungan kembali. Hari-hariku dipenuhi dengan perhatian dan kasih sayangmu, pujian-pujian mu terhadapku jadi menu keseharianku. Tapi, masih ada kebimbangan dalam hatiku, aku masih bertanya-tanya, sebenarnya apakah aku sayang sama dia?? Tiap dia bilang sayang kepadaku, ku selalu bilang ‘’ aku juga sayang kamu ‘’, aku tak tahu salahkah ucapanku itu, yang aku tahu, aku akan membuatnya bahagia jika aku mengatakan bahwa aku juga menyayanginya.

Sikapnya memang tak seperti dulu lagi, sudah lebih dewasa, tapi masih saja ada sikap yang membuatku jengkel. Ingin selalu ku tegur tapi aku tak mau pertengkaran terjadi diantara kita, aku Cuma ingin menjalin hubungan yang lebih lama dengannya. Walaupun ku coba hindari pertengkaran, masih saja ada yang membuatku marah dan ngambek kepadanya, dia selalu mencoba menenangkanku dan membuatku tersenyum lagi. Kian lama ku jalani hari bersamanya,kian ku rasakan kebahagian, rasa sayang itu tumbuh dengan seiring berjalannya waktu dan kebersamaan kita selama ini.

Ditengah kebahagiaan kita, ada masalah yang terjadi, hubunganku ini tanpa diiringi restu kedua orang tuaku. Sakit saat ku dengar ucapan mereka, bahwa hubungan ku ini harus segera berakhir. Ku coba bicara hal ini pada Rama, tapi aku nggak berani. Aku takut menyakitinya, aku takut membuat dia terluka, aku nggak tega ngomong sama dia. Sekarang ku di hampiri kebimbangan, apa yang harus aku lakukan, menuruti kata orang tua, apakah memperhatakan hubungan ini. Sungguh, jadi kayak sinetron, hubungan nggak direstui gara-gara masalah yang sepele dan nggak jelas. Sumprit deh pusing mikirin masalah ini, mau dibawa kemana hubungan ini.

Suatu hari, aku bertemu dengan dia di rumah temenku, sebut saja namanya Putra, karena kebetulan banget pacarnya Putra adalah temen dekatku sendiri, panggil aja Isna. Jadi, ceritanya double date gitu deh. Seru juga double date kayak gini, saat itu aku sama Rama duduk berdua, dia nyuruh aku menutup kedua mataku, aku sempat nggak mau, tapi dia maksa. Ya, okelah aku turutin. Dan tak lama kemudian aku rasakan ada sesuatu di leherku, ku buka mataku dan ternyata dia telah memasangkan kalung di leherku. Dia tersenyum padaku dan bilang ‘’ aku sayang kamu’’. Ku balas senyum manisnya dan ku balas pula ucapannya itu ‘’ aku juga sayang kamu ‘’.

Tak lama kemudian aku berdiri, aku mengatakan sesuatu kepadanya,
‘’ bagaimana nanti seandainya kita tak lagi bersama ya?”

Dia terkejut dengan pertanyaanku itu, serentak ia berdiri dan kembali bertaya kepadaku.
‘’ apa maksud kamu, apa yang kamu katakan?’’

Aku diam sejenak dan menunduk sambil ku pegangi kalung dari dia.
‘’ seandainya hubungan kita nanti berakhir bagaimana?’’
‘’ berakhir? Kenapa kamu berfikir seperi itu?’’
‘’ kamu tahukan, orang tuaku bagaimana, mereka tak merestui kita !’’

Rama terdiam, ia duduk kembali dan menunduk. Sungguh, sedih bangit hati ini ngeliat dia kayak gitu. Dia kemudian mengajukan pertanyaan kepadaku.
‘’ apa kamu akan mengakhiri hubungan kita ini?’’
‘’ aku nggak tahu?” jawabku dengan lemas
‘’ aku ikhlas, jika memang kamu akan memutuskan hubungan ini, tapi sungguh ku tak kan sanggup kehilangan kamu ‘’

Rama menatapku, dengan mata yang berkaca-kaca. Oh, tuhan sungguh semakin tak tega aku, rasanya tubuh ini makin lemas bahkan mau pingsan.
‘’aku, aku nggak tahu, aku nggak tahu harus bagaimana’’
‘’ aku sangat menyayangimu, aku nggak bisa kehilangan kamu’’
‘’ aku juga sayang kamu ‘’

Dia berdiri dan memeluk erat tubuhku, ini untuk pertama kalinya aku dipeluk sama pacar. Dan tak ku sangka air mata ini menetes begitu deras.
‘’ aku sungguh nggak mau kehilangan kamu , aku menyayangimu’’

Berulang-ulang kali Rama mengucapkan kata-kata itu.
‘’ aku juga sayang kamu, aku nggak mau putus dari kamu’’

Setelah ku ucapkan kalimat itu, air mata ini semakin tak mau berhenti.
‘’ aku nggak mau putus, nggak mau’’
‘’ jangan nangis ya, aku nggak mau liat kamu nangis kayak gini’’
‘’ tapi, aku nggak mau putus, aku sayang kamu’’
‘’ kita nggak akan putus, nggak akan pernah. Percaya lah padaku, pasti suatu hari nanti, kita akan mendapatkan restu’’
‘’ apa kamu yakin?’’
‘’ aku yakin, sudah ya nggak usah nangis lagi, aku nggak tega ngliat kamu nangis kayak gini’’

Rama mengusap air mataku dengan begitu lembut, kedua tangannya memegang pipiku.
‘’ aku menyayangimu, yakinlah bahwa hubungan kita akan baik-baik saja’’

Dipeluknya kembali tubuhku yang lemah ini, ku ucapkan berulang-ulang kali.
‘’aku sayang kamu, aku nggak mau putus ‘’
Semakin kurasa nyaman dalam pelukannya, terasa sejenak beban ini hilang. Rasanya aku tak ingin lepas dari pelukan hangatnya. Tapi waktu juga yang akhirnya melepaskan. Aku sempat berfikir hari ini semuanya akan berakhir begitu saja, tapi ternyata salah , cerita ini masih terus berjalan dan belum berakhir.
Sejak saat itu, cerita ini semakin indah, banyak moment-moment yang berkesan. Dia selalu menemani tawaku, dia mengusap air mataku ketika ku menangis, dia selalu di sampingku saat ku bersedih. Rasanya sayang ini semakin kuat.
Suatu hari saat meeting class, Isna tidur dirumahku, dan kami membuat rencana untuk berangkat kesekolah esok hari, aku akan berangkat dengan Rama, dan dia akan berangkat dengan Putra dan kami berencana berangkat agak siang dari pada biasanya.
Keesokan harinya, rasanya begitu semangat untuk memulai hari ini, setelah selesai sarapan aku dan Isna berangkat, kami janjian bertemu Rama dan Putra di jembatan. Saat sampai di jembatan baru Rama yang disana, Putra belum nongol ternyata. Rama mengajakku berangkat lebih dulu karena ia takut telat, tapi Isna nggak mau ditinggal sendirian. Setelah beberapa saat akhirnya Putra nongol juga, kamipun berangakat tapi kami tak melewati jalan yang sama. Kami memang berbeda-beda sekaolah, Cuma aku dan Isna yang satu sekolah, aku dan Isna nantinya akan bertemu di depan gerbang sekolah.

Sepanjang jalan, aku dan Rama bersenda gurau, jikalau bisa tiap hari kayak gini, anganku melayang tinggi. Dia berkata padaku
‘’ aku ingin tiap hari bisa berangkat ke sekolah dengan kamu, menjemputmu di rumah dan disekolah, pengen banget “
‘’aku juga pengen kayak gitu, kayak anak-anak yang lain, bisa berangkat dan pulang bareng,tapi apalah daya itu mustahil terjadi’’

Kami terdiam sejenak, seakan menghentikan angan yang sempat melayang. Saat sampai di depan sekolahku, ku tengok kanan dan kiri mencari Isna, dan ternyata ia belum datang.
‘’ cepat sana masuk, nanti telat’’
‘’ aku nunggu Isna ‘’
‘’ tunggu di dalam aja, cepat masuk’’
‘’ nggak lah, aku mau nunggu di sini aja’’
‘’ ya uda terserah kamu aja, aku ke sekolahku dulu ya, hati-hati kamu di sini’’
‘’ iya, kamu juga hati-hati ya’’

Aku duduk di depan gerbang sendirian, lalu ada temankku yang baru datang, dan aku mengajaknya nungguin Isna, aku telfon tak diangkat olehnya, aku sms tapi tak di balas. Sampai akhirnya gerbangpun ditutup, dan ada salah seorang temanku yang baru datang.
‘’ ngapain kalian berdua disini?’’ tanyanya kepadaku dan temanku
‘’ nunggu Isna, dia belum datang”
‘’lhoh, gerbangnya kok ditutup’’ katanya dengan kaget
‘’ ya uda, disini dulu nunggu Isna ‘’
Aku dan kedua temanku menunggu Isna, cukup lama kami menunggu dan akhirnya dia datang juga. Dia datang dengan senyum yang lebar tanpa merasa bersalah karena tela membuat kami menunggu. Saat kami akan masuk, pak satpam menghalangi kami, beliau tak mau membukakan pintu gerbang. Beliau menyuruh kami menunggu anak-anak yang lain, mungkin ada yang telat lagi. Dan ternyata benar, ada lebih banyak lagi yang telat. Setelah itu, kami harus berbaris dengan rapi, dan kamipun dimarahin oleh pak satpam, bahkan kami di video dan wajah kami di potret sama ketua osis. Wow, kayak teroris aja fikirku, setelah kenyang dengan omelannya pak satpam dan ketua osis, kami harus berlari keliling lapangan, padahal lagi ada pertandingan futsal. Sumpah, malu banget deh, diketawain dan dilihat sama anak satu sekolahan, rasanya pengen ku tutup mukaku pakai kantung kresek.
Tapi, aku akuin deh nggak nyesel hari ini telat dan nggak apa-apalah harus dapat omelan yang penting bisa bareng sama mas pacar. Heheehehe

Habis itu, aku dan Isna malah ketawa-ketawa sendiri, habis gokil banget deh kejadian ini, mungkin akan selalu teringat dan nggak terlupakan. Saat pulang sekolah Putra sudah sampai terlebih dulu menjemput Isna, dan kami menunggu Rama, sampai akhirnya Rama datang menjemputku. Kami pulang bareng lagi dan kali ini kami pulang melewati jalan yang sama. Rasanya hari ini nggak mau cepat-cepat berlalu, kapan lagi coba bisa kayak gini. Ada yang lucu sih dari hubungan aku dan Rama, lalu Isna dan Putra. Jika salah satu dari kami ada yang bertengkar pasti yang satunya juga bertengkar. Dan kalau lagi seneng dan bahagia-bahagianya, pasti yang satu juga lagi bahagia. Kalau lagi berantem sama pacar,malah aku dan Isna yang cuek-cuekan, diem-dieman,. Tapi kalau lagi baikan dan nggak ada masalah sama pacar, kita pasti ngobrol terus, becanda terus. Kalau di fikir-fikir emang lucu sih, sedih bareng seneng bareng.
Keanehan mulai aku rasakan saat bulan puasa, aku merasa sikap Rama berubah, aku merasa dia uda nggak perhatian lagi sama aku. Tapi, aku coba untuk hilangkan perasaan ini. Sebenarnya memang bulan puasa ini menyenangkan, aku dan Rama tak jarang sholat terawih bareng dan sholat shubuh di mushola bareng.

Suatu malam selepas sholat tarawih, Rama mendatangi aku di rumah, kebetulan saat itu kedua orang tuaku masih dimushola. Aku kurang mengerti tujuan dia rumahku itu apa, lalu Rama berkata padaku “ aku sungguh menyayangimu ‘’. Aku tersenyum mendengar ucapannya itu, belum sempat aku balas ucapannya itu, tiba-tiba ia memegang tanganku dan memasangkan sebuah cincin di jari manisku.
“ aku sungguh sayang kamu, jangan tinggalkan aku, dan ku mohon jaga cincin ini baik-baik “ ucap Rama dengan tatapan mata yang sendu
‘’ aku juga sayang kamu, kan ku jaga cincin ini seperti ku menjaga cinta ini “
Ia memeluk tubuhku, sungguh ku rasa begitu nyaman dan ku merasa bahwa ia benar-benar menyayangi aku. Selepas itu, ia segera pulang. Ku pandangi cincin itu, dan aku berfikir, apakah tak kan ada nantinya yang memisahkan aku dan dia?? Yah, semoga saja. Aku hanya menginginkan yang terbaik buat hubunganku dengan Rama ini.

Beberapa hari setelah itu dan pada saat makan sahur, tak ku sangka kalung yag diberikan oleh Rama putus, dan ku merasa perasaan ku tak menentu, ada kekhawatiran, ada ketakutan, ku bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi?? Lalu, ku coba mengatakan kepada Rama bahwa kalung pemberiannya itu putus.
‘’ kenapa, kalung itu bisa putus?’’ tanya Rama
‘’ aku tak tau, tiba-tiba putus begitu saja”
‘’ kamu sih nggak jaga baik-baik “
‘’ aku sudah jaga baik-baik kok ‘’
‘’ ya sudahlah, besok-besok aku belikan lagi “
Untung saja Rama tak marah padaku, tapi jika diingat-ingat barang-barangku dari Rama tak pernah ada yang tetap utuh atau bagus sampai sekarang ini. Mulai dari boneka yang ia berikan saat rekreasi waktu SMP dulu uda ada bagian yang sobek, gelang juga putus, lalu bingkai fotonya pecah , dan kalungpun putus. Aneh memang dan sempat terfikir dibenakku, apakah ini pertanda bahwa hubunganku dengan dia tak kan bertahan lama dan kami ditakdirkan tidak untuk bersama. Tapi, selalu ku coba singkirkan jauh-jauh fikiran buruk itu.

Malam itu, semakin ku rasakan ada yang aneh dari dia, lalu ku beranikan diri untuk menegurnya,
‘’ aku merasakan ada yang aneh dengan kamu akhir-akhir ini “
‘’ aneh bagaimana?”
‘’aku merasa perhatianmu berkurang, tak seperti dulu “
‘’ perhatianku terhadapmu tak pernah berkurang, mungkin hanya perasaanmu saja “
‘’ ini bukan sekedar perasaan semata, kamu benar-benar berubah, tak seperti dulu “
‘’ mungkin karenaku terlalu banyak tugas “
Dan akhirnya semua perkataanku itu menimbulkan pertengkaran di antara kami, aku marah padanya, dan mungkin ia juga marah padaku.
Keesokan harinya, aku tak memberi kabar padanya dan aku sangat berharap ia mengirimi aku pesan atau menelfonku seperti biasa. Tapi, dari pagi hingga malam tak satupun pesan ku terima darinya, semakin jengkel ku rasa, dan kemarahanku semakin besar padanya.

Hari berikutnya, tetap ku coba tuk tak menghubungi dia, aku ingin tau apakah dia akan menghubungi aku. Tapi, hingga siang hari, tak juga ia menghubungi aku, aku rasanya sudah tak tahan menahan emosiku. Lalu ku kirimi dia pesan
‘’ kok dari kemarin nggak ada kabar, lupa ya kalau punya pacar, atau uda nganggep kalau uda nggak punya pacar ?’’
‘’ ngomong apa’an sih, siapa yang lupa kalau uda punya pucar dan siapa juga yang uda nganggep kalau nggak punya pacar “
‘’ lha trus apa dong namanya, kalau dari kemarin seharian nggak hubungin aku dan sekarang ini aku kalau nggak ngirim pesan, pasti kamu juga nggak akan ngirimi aku pesan kan??”
‘’ aku Cuma sakit hati aja, karena kamu menganggap kalau aku uda nggak perhatian sama kamu “
‘’emang kenyataannya kayak gitu kok “

Dan pertengkaran kami malam itu pun berlanjut, dan karena aku sudah jengkel aku tak membalas pesan darinya. Lalu, entah kenapa rasanya saat itu aku ingin sekali membuka jejaring sosial (fb). Saat itu ku terima pesan, dan anehnya yang ngirim aku pesan adalah Rama, tpi, yang lebih anehnya di pesan itu ia bertanya
‘’ ini pacarnya Rama?”
‘’iya”
‘’ma’af, aku bukan Rama, kamu masih pacaran sama dia?’’
‘’iya, aku masih pacaran sama dia, ini siapa?’’
‘’beneran kamu masih pacaran sama dia?
‘’ beneran lah, kamu siapa sih sebenarnya kok pake fbnya Rama?’’
‘’tapi dia bilang ke aku kalau kalian uda putus !!’’
‘’uda, uda, hubungin aku di nomer ini ************ ‘’

Lalu aku kasih nomer hp aku ke dia, dan kemudian ada pesan dari anak itu.
‘’kak, beneran ya kamu masih pacaran sama Rama?’’
‘’beneran lah, walaupun sekarang aku lagi berantem sama dia, kami nggak putus kok dan nggak ada kata-kata putus tuh !!”
‘’ tapi, dia bilang ke aku kalau kalian uda putus !!’’
‘’ kapan dia bilang kayak gitu, dan kamu itu siapa?’’
‘’beberapa hari yang lalu, aku adik kelasnya kak!!’’
‘’nama kamu siapa, dan kenapa sebenarnya kamu nanya kayak gitu sama aku?’’
‘’ aku Febri, aku Cuma mau pastiin aja yang sebenarnya itu bagaimana “
‘’ sumpah ya, aku nggak ngerti maksud kamu itu apa’’
‘’ Rama uda bilang cinta ke aku, dan dia nembak aku kak!!’’

Membaca pesan itu rasanya aku ingin marah, nangis, perasaan ku nggak karu-karuan, tapi aku masih mencoba untuk tetap tenang.
‘’apa,? nggak mungkin “
‘’ beneran kak, ma’afin aku kalau memang aku merusak hubunganmu dengan Rama “
‘’ kalian uda pacaran?’’
‘’ aku bingung, dia tetap mau jadi pacar aku, aku uda coba nolak dan dia tetap ngotot mau jadi pacar aku kak !!
‘’ aku tanya, kalian uda pacaran apa belum? Nggak usah muter-muter kalau jawab !!’’
‘’ uda kak, tapi baru beberapa hari saja kok, kalau gitu aku akan mutusin dia kak !!’’

Beberapa saat kemudian
‘’ dia nggak mau putus dari aku kak “
‘’oh, gitu ya..!!’’
‘’ ma’afkan aku kak, aku nggak punya maksud ngrusak hubungan kalian !!’’
Dan febri mengirimkan sebuah pesan dari Rama ke aku yang isinya disitu Rama nggak mau putus dari Febri.

Lalu, aku mengirim pesan ke Rama, aku coba tetap tenangkan diri aku.
‘’oh ya,aku lupa nanya sama kamu. Kita putus kan?’’
‘’ terserah “
‘’ oke, kita resmi putus, akhirnya aku bisa bebas juga “
‘’ ini kan yang kamu mau, putus dari aku dan kamu bisa dengan cowo’ lain?’’
‘’kalau iya, emang kenapa, masalah buat kamu? Kamu aja bisa dengan cewe’ lain sebelum kita putus, masa’ aku nggak bisa dengan cowo’ lain, padahal kita uda resmi putus !!
‘’ terserah apa kata kamu aja “
‘’iya, satu pesenku buat kamu, urusin tuh selingkuhan kamu “
Dalam pesan itu, aku berlaga tenang dan santai menghadapi masalah ini, tapi sebenarnya hatiku ini hancur banget dengan semua kejadian ini, sakit banget rasanya, pengen nangis, pengen teriiak, pengen marah, tapi rasanya aku nggak tau bagaimana ngungkapin semua perasaan yang ada di hatiku ini. Tanggal 13 agustus 2012, aku dan Rama resmi putus dan hubungan sudah benar-benar berakhir, gara-gara perselingkuhannya dengan Febri, 7 bulan kurang 4 hari hubungan ini berjalan dengan sia-sia, sad ending.

Lalu, aku megirim pesan lagi kepada Febri.
‘’ aku uda putus sama Rama “
‘’ kok putus, ma’afin aku gara-gara aku kalian putus,”
‘’uda lah, nggak apa-apa “
‘’ kalian nggak usah putus ya, biar aku saja yang putus sama Rama, kalian uda saling mengenal lebih dulu,”
‘’ aku uda terlanjur putus sama Rama, dan mungkin emang uda takdirnya aku putus sama dia !!’’
‘’ ma’afkan aku ya !!’’
‘’ya, moga kalian langgeng!!”
‘’ amin kak, makasih do’anya, dan sekali lagi ma’afin aku “
Sumpah, aku nggak nyangka banget tuh anak bakalan bilang “amin” saat aku bilang “ semoga kalian langgeng”, muna banget tuh anak, awalnya bilang mau putus sama Rama, tpi akhirnya malah bilang amin. Rasanya pengen aku mencaci maki mereka semua, pengen aku pukulin sampe babak belur.
Sempat aku mengajak Febri bertemu dan ngomongin masalah ini baik-baik, tapi ia menghindar dan menolak, aku kurang tau alasan dia yang sebenarnya menghindar dari aku itu apa, dia Cuma bilang kalau dia lagi sibuk, tapi menurutku ia takut bertemu denganku, mungkin ia takut aku bakalan marahin dia, padahal ngga ada maksud ku buat marah atau maki-maki tuh anak, aku kan Cuma pengen tau lebih jelas dan ngomong secara tatap muka langsung kan lebih enak dari pada Cuma lewat handphone.

Cerpen Sedih dan Romantis

Cerpen Sedih dan Romantis
Cerpen Sedih dan Romantis Say Love



Takdir, aku percaya itu sepenuhnya.Pertemuan dan perpisahan, adalah bagian dari takdir. Tak ubahnya kebahagiaan yang menghampirimu saat kau bersama orang yang kau sayangi. Tapi saat takdir itu membuatku menangis, jatuh, terpuruk, aku tak ingin mempercayainya, aku ingin percaya bahwa itu hanyalah suatu kebetulan. Tapi nyatanya, di dunia ini tidak ada kebetulan, hanya ada takdir...

Sore ini, kuintip jendela kelasku, kulihat semburat warna langit yang cerah berwarna orange. Indah, tapi tak begitu kusuka, menurutku warnanya membuat hatiku sendu, sedih. Ku berjalan dari ruang kelasku, melewati koridor menuju halaman depan.
Tak terlalu kuperhatikan jalan maupun orang-orang di sekitarku yang berhamburan ingin segera pulang ke rumah masing-masing, setelah kegiatan ekstrakurikuler yang melelahkan, maupun karena jam tambahan.
Tiba-tiba, aku merasakan diriku menabrak sesuatu, bukan tembok, karena kurasakan ada sebuah tangan yang menahan pinggangku hingga aku tak melesat ke tanah. Lalu tangan itu membantuku membenarkan posisiku hingga aku berdiri dengan normal lagi.
“Rose?” sosok familiar di depanku memberiku ekspresi penuh tanya, suaranya begitu lembut dan perhatian
“Ah, Sam...” nadaku lemah, mungkin ekspresiku sangat buruk sekarang
“Kamu mau pulang?” seakan membaca pikiranku, ia tau bahwa aku tak ingin membicarakan tentang hal yang akhir-akhir ini ditanyakan orang padaku, tentang Nara.
“Iya, mungkin jalan kaki. Aku ngga bawa mobil hari ini.”
“Mau aku anter?”
“Tapi, aku lagi pengen jalan kaki.”
“Aku temani?”
“Mobilmu?”
“Aku telfon orang buat ngambil” ia menatapku lekat-lekat “ya?”
“Oke”

Lalu kami berjalan, diam, namun sama sekali bukan diam yang kikuk. Namun diam yang seakan-akan memanggil kembali memori di masa kecil kami, saat kami selalu pulang sekolah bersama, terkadang kami main hingga petang, lalu ia dimarahi ibuku , tapi herannya ia selalu tertawa setelah dimarahi, seakan tidak menyesal telah mengajakku bermain hingga petang. Dan lebih herannya lagi, ibuku pun selalu mengijinkanku bermain bersamanya.
Dulu kami selalu bersama, bermain, sekolah, belajar di rumah, hampir setiap waktu kami selalu bersama.
Masih tersimpan jelas di memoriku saat-saat ia selalu menjagaku, ia melindungiku dari sekelompok anak nakal yang ingin merebut es krim-ku. Dengan berani, ia menyuruh mereka untuk berhenti menggangguku, ia sangat berani, walaupun tau ia kalah jumlah. Sebaliknya, aku sangat pengecut, hanya bisa menangis dan mengintip dari balik bahunya. Mereka memang tidak jadi merebut es krim-ku, namun sebagai gantinya mereka mengajak Sam berkelahi, keroyokkan. Mereka mendorong Sam hingga menabrakku dan menjatuhkan es krim-ku, lalu aku menangis keras, hingga merebut perhatian orang-orang, dan anak-anak itu pun kabur. Lalu Sam menghampiriku dan berkata ‘Rose, maaf, es krim-mu jatuh. Aku beliin lagi ya? Jangan nangis...’

Aku menghentikan langkahku saat kami tiba di sebuah taman yang dipenuhi bunga matahari. Tempat ini belum berubah, tempat dimana dulu kami sering bermain kemari saat masih duduk di bangku SD. Kupandangi hamparan bunga matahari yang terlihat lebih indah saat terkena cahaya matahari yang hampir terbenam.
“Rose?” Sam menghentikan langkahnya, lalu berjalan menghampiriku dan berhenti tepat di hadapanku.
“Kamu inget ngga, dulu kita sering main kesini?” aku tersenyum lemah, mengingat masa kecil kami. Ia mengangguk.
“Kamu ngga apa-apa kan?” raut wajahnya sama seperti biasa, raut wajah yang selalu mengkhawatirkanku “Rose?”
“Nara-“ kurasakan kedua mataku panas, pandanganku kabur, dan baru sadar bahwa aku sedang menangis saat kurasakan air mataku jatuh, membasahi pipiku. “Aku putus sama dia...”

Ia menyodorkan sapu tangan padaku, lalu diusapnya pipiku menggunakan sapu tangannya. “Aku tau...” jawabnya.
“Aku tau, papanya ngga pernah setuju sama hubungan kami. Tapi, dia ngga pernah sekalipun nyoba buat ngeyakinin papanya, ngga pernah sekalipun ngijinin aku buat ngambil hati papanya biar dia bisa nyetujuin hubungan kami.” Air mataku mengalir deras tak terkendali “Akhirnya... Akhirnya dia lebih miilih buat ninggalin aku. Padahal, kami sama sekali belum pernah nyoba buat ngeyakinin papanya, belum pernah sekalipun...” setelah ia membiarkanku menangis untuk beberapa saat, akhirnya ia mulai bicara...
“Rose... Aku senang kamu putus sama Nara.” Mataku terbelalak, nafasku tertahan untuk sesaat, kupandangi ia dengan tatapan tak percaya.

“Sam??” kusipitkan mataku, menuntut jawaban.
“Aku senang kamu putus ama dia. Tapi, aku ngga bisa liat kamu sedih, nangis.” Aku bingung, apa yang sedang ia bicarakan?’“Apa kamu inget? Dulu, waktu kita kecil, kamu sering banget nangis. Tapi kamu langsung diem kalo aku kasih es krim.” Ia tertawa kecil, lalu tersenyum dan memandangku lembut.
“Iya...” aku pun tersenyum, mengingat kembali memori tersebut dan mengabaikan kebingunganku “Aku juga inget, dulu aku pernah jatuh pas kita main kejar-kejaran. Lututku berdarah, trus nangis.” lalu Sam di masa kecil menghampiriku dengan ekspresi penuh kekhawatiran ‘Rose? Sakit ya? Jangan nangis...’ aku yang cengeng, bukannya diam malah menangis semakin keras. Lalu ia menawarkanku untuk naik ke punggungnya ‘Ayo, aku gendong kamu pulang.’ Dan ia benar-benar menggendongku ke rumah, namun berhenti di jalan untuk membelikanku es krim, dan aku menikmati es krimku sembari digendong olehnya, melupakan rasa sakit di lututku.
“Tapi kamu udah jarang nangis sejak masuk SMA. Sejak kamu kenal Nara, sejak kamu mulai jauh dari aku, sejak kita ngga pernah main berdua lagi.”

“Sam...”
“Aku ngga tau, aku harus seneng ngeliat kamu bahagia, atau harus sedih kita ngga bisa main bareng kaya dulu lagi.” Ia tersenyum sedih “yang aku tau, aku ngga suka liat kamu nangis. Aku rela ngapain aja, mbeliin kamu es krim sebanyak mungkin, atau apapun, asalkan kamu ngga nangis.”
“Kenapa?”

“Karena, kalo kamu sedih, aku juga sedih.” Ia menempelkan telapak tangan kanannya pada dada kirinya “Di sini, jadi sakit.” Lalu diraihnya kedua tanganku, dan ditatapnya mataku lekat-lekat “Aku ngga mau kamu sedih, Rosalie...” Ia tetap sama dengan Samuel yang dulu, Samuel yang aku kenal sejak kami berumur 6 tahun, Samuel yang selalu mengkhawatirkanku, menjagaku, dan mengatakan ‘jangan nangis, Rose...’ atau ‘aku beliin es krim, ya?’ untuk membuatku berhenti menangis. Lalu aku sadar, kalau selama ini aku melakukan kesalahan, kesalahan yang tak termaafkan. Karena aku telah mengabaikannya selama dua setengah tahun terakhir, walaupun aku tak berniat demikian. Aku hanya terlalu sibuk dengan cinta pertamaku, Nara. Dan lambat laun aku semakin jauh dari Sam, frekuensi pertemuan kami berkurang, dan akhirnya benar-benar tak saling bicara. Benar-benar mengabaikannya, seseorang yang selalu ada di sampingku, yang selalu mengkhawatirkanku, yang selalu menjagaku, seseorang yang ternyata sangat kubutuhkan. Seseorang yang ternyata punya tempat di hatiku, bahkan menempati posisi yang lebih penting dari Nara, pacar pertamaku.
“Bego...” tangisku semakin keras
“Eh???” kali ini dia benar-benar kebingungan. Kulepaskan kedua tanganku yang ia genggam untuk menutup wajahku dan menangis sejadi-jadinya

“Kamu bego, Sam!!!”
“Hah?” kedua alisnya tertaut
“Kenapa ngga bilang kalo kamu suka sama aku???” kutoyor kepalanya dengan tangan kananku, lalu aku tertawa, sambil menangis.
“Aku...” ia mengusap dahinya, kedua matanya memandangi tanah di bawah kami. Pipinya memerah.
“Hahahahaaa”
“Apa?” ia memandangiku lagi, pipinya masih merah.
“Ekspresimu sekarang persis cewek-cewek pemalu yang ada di komik waktu ketemu cowok yang disukai.” Kuseka air mataku, entah air mata kesedihan yang tadi, atau air mata akibat aku menertawainya.
“Aku suka kamu” kali ini pipinya sudah tidak lagi memerah, ia memandangku lekat-lekat lagi. Aku berhenti tertawa, lalu tersenyum, kupandangi kedua matanya, lalu aku menghambur ke pelukkannya, dan kembali menangis.
“Bego!!!”

“Lho?” meskipun bingung, namun ia balas memelukku, kemudian tersenyum, dan aku tau aku tidak perlu menjawab pernyataan suka darinya, aku tau ia akan selalu ada di sisiku (kali ini di pelukkanku), menjagaku seperti biasa, melindungiku, menghiburku agar tidak menangis..... “Kamu mau es krim?” kujawab pertanyaannya dengan senyuman, dan kugandeng tangannya, lalu kami berjalan pulang
(kami mampir ke toko es krim di perjalanan pulang).

Cerpen Aku Memilih Setia


Aku terbangun di pagi yang cerah. Hari ini mungkin hari bahagia dalam hidupku. Perkenalkan, namaku Dea Melinda. Biasa dipanggil Dea. Aku kelas XI IPA 2, di salah satu SMA di Jakarta.
FlashBack, Hari ini adalah hari dimana aku genap 1 tahun berpacaran dengan Julham. Dia adalah sosok lelaki yang sempurna di mataku. Selama berpacaran dengan dia, aku merasa selalu bahagia.
Aku bergegas mandi dan sarapan. “TIN TIN” suara klakson motor Julham yang sudah terparkir di halaman depan rumahku. Aku segera keluar. “Pagi sayang…” Sapanya. “Pagi juga. Tumben kamu panggil aku sayang?” Ucapku heran. Memang, selama ini jarang dia memanggilku sayang, dia lebih senang memanggilku “Tuan Putri” entah darimana dia dapat kata panggilan itu. “Sekarang kan hari jadi kita, masa gak boleh panggil mesra sih?” Jawabnya “Oh, iya iya… Kirain kamu gak inget. Ya udah, jangan ngobrol mulu telat nih…” Omelku sambil menunjukkan jam tanganku “Oke deh, naik Tuan Putri…” Balasnya. Aku segera naik motor Ninjanya.
Aku segera turun dari motornya. Aku telah sampai di sekolah, kebetulan sekolahku dengan Julham sama. Hanya beda di kelas saja, dia kelas X dan aku kelas XI. Yap! Dia memang lebih muda dariku. Tapi, apa itu menjadi masalah? Tentu tidak kan?. “Dah sayang…” Ucap Julham melambaikan tangan kepadaku saat kita berpisah kelas “Dah…” Balasku melambaikan tangan padanya. “Hai Dea…” Ucap Husna mengagetkanku. Dia adalah Best Friendku. “Eh Husna. Ada apa?” Tanyaku “Enggak ada apa apa kok… Gimana Julham? Dia ngasih kamu apa? Bunga mawar? Atau puisi puisi romantis?” Jawab Husna balik tanya. “Ih, apaan sih? Gak kok, Julham gak ngasih apa apa…” Jawabku “Hah? Masa sih? Sekarang kan hari jadian kalian” Ucapnya sambil menaikkan alisnya penuh curiga. “Enggak kok, lagian kamu Kepo banget..” Balasku. Memang, Sahabatku ini terkenal kepo. “Hihihi, kan cuma nanya. Ya udah masuk kelas aja yuk” Ajaknya.
“Selamat pagi anak anak” Sapa Guru “Pagi Pak…” Balas anak anak kelasku. “Kita akan kedatangan murid baru. Silahkan masuk…” Ucap Guru. Seseorang cowok masuk ke kelasku. Tunggu?! Bukankah itu… “Silahkan perkenalkan diri” Kata Guru “Perkenalkan semua, nama saya Irwan Hidayah. Panggil saja saya Irwan. Saya pindahan dari salah satu SMA di Bandung.” Ucapnya memperkenalkan diri. “Dea bukannya itu Irwan?” Ucap Husna lirih. “Iya Na, kayaknya dia Irwan..” Jawabku. Irwan segera duduk di bangku belakang.
Saat istirahat. “Ke kantin yuk Na..” Ucapku mengajak Husna pergi ke kantin. “Enggak bisa deh Dea. Lagi Skype sama Karel nih…” Jawabnya. Karel adalah pacar Husna. Mereka lain dengan ku dan Julham yang sama sama masih SMA, Karel sudah kuliah di salah satu Universitas Negeri di Jakarta. “Jiiahh, Iya deh yang lagi pacaran..” Balasku “Kamu bukannya ada Julham? Jam segini kan dia udah istirahat” Ucap Husna tanpa lepas dari penglihatan di Handphonenya “O iya… Hehehe makasih udah ngingetin ya…” Jawabku
Aku segera keluar kelas. “BBRUUKKK!” Seseorang menabrakku. Dia membantuku berdiri. Ku tatap wajahnya. Dia adalah… Ku segera pergi meninggalkannya. Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi. Aku menutup mata dengan tanganku. BRUK Aku menabrak seseorang yang ternyata Julham. “Kamu kenapa? Kok jalan sambil tutup mata?” Tanyanya “Ehm, eh, gak papa kok…” Aku jadi salah tingkah menjawab pertanyaannya. “Yakin? Apa ada orang yang buatmu terluka? Biar aku hajar orang itu!” Ucap Julham “Eng, enggak kok… Gak papa… Kita ke kantin aja yuk” Ucapku menggandengnya ke Kantin.
“Untuk memperingati hari jadi kita, ntar kita jalan ya..” Ucap Julham memulai pembicaraan. “Eh, iya Ham. Aku sih mau mau aja..” Jawabku. “Oh, ya… Ada anak baru di kelas kamu ya?” Tanyanya “Iya, namanya Irwan..” Jawabku “Ganteng gak?” “Eh, hm gak lah!” Tungkasku “Gantengan aku apa dia?” “Gantengan dia dikit sih…” Julham mencemberutkan bibirnya. “Hahaha… Tenang… Maksudnya, dia gantengnya dikit kamu banyak…” Ucapku sembari mencubit pipinya “Oh, hehehe… Kirain…” Jawabnya. Aku mengobrol berbagai hal dengan Julham, kadang disela canda tawa kita. Tunggu! Aku merasakan ada yang mengawasi aku dan Julham. Aku mengengok ke kanan dan kiri. Ada seseorang di balik pohon. Dia, dia Irwan!. “Ada apa sayang?” Tanya Julham mengagetkanku “Eh, ehm.. enggak papa kok… Mungkin aku hanya berhalusinasi saja..” Jawabku. KRIINNNGG Bel tanda masuk berbunyi.
“Huufffttt” Aku menghela nafas panjang “Kenapa De?” Tanya Husna “Ah, enggak kok… lagi bayangin entar malem aja… hehehehee” Jawabku “Pasti jalan sama Julham ya?” “Iya dong…”. Pelajaran dimulai. Pelajaran yang bisa dibilang membosankan. 1 jam berlalu, 2 jam berlalu, 3 jam berlalu, 4 jam berlalu, dan KRIINNGGG. Yuhuuyy.. bel pulang berbunyi… Aku segera keluar kelas. Disana sudah ada Julham yang menungguku. “Siang…” Sapanya “Siang juga…” Jawabku. “Tuan Putri, aku punya usul..” Ucap Julham.
“Usul apa?”
“Kamu kan bendahara Osis, gimana adain acara amal?”
“Hm.. Boleh..”
“Acaranya konser musik ya..”
“Hahaha mentang mentang sudah punya band nih.. :p”
“Hahaha.. iya.. aku kan ketua I PK, jadi kalau gak boleh aku dukung deh..”
“Oke, Pulang yuk.. Aku mau tidur buat entar malem begadang sama kamu..”
“Hahahaa yuk”
Aku segera menaiki motor Julham dan puulang…
Malam tiba. Malam yang paling aku tunggu. Aku memakai baju kesukaanku. TIN TIN bunyi motor Julham. “Dea, sudah ada Julham tuh…” Teriak mama “Iya ma!” Jawabku. Aku segera menghampirinya. “Malam ini kamu cantik deh Tuan Putri..” Pujinya “Ih apaan sih Julham, jadi kemarin kemarin aku gak cantik donk?” Ucapku “Bukan gitu… sekarang lebih istimewa gitu..” “Hahaha.. Udah deh jangan muji muji mulu.. berangkat yuk” “Hahaha… Silahkan naik Tuan Putri..” Aku menaiki motornya.
Sampailah di sebuah Restoran. Restoran yang bagus menurutku. “Silahkan..” Sapa para pelayan “Terimakasih..” Ucapku. Aku duduk di sebuah bangku di meja yang dihiasi lilin yang menyala. Sungguh anggun. “Julham, aku mau ke kamar mandi dulu ya…” Ucapku bergegas ke kamar mandi.
Saat aku mau masuk ke kamar mandi, aku berpapasan dengan Irwan. Kenapa dia disini juga ya? Pikirku. Aku segera memasuki kamar mandi aku tatap kaca yang berada disitu. Aku merapikan segala yang ada pada diriku. “Mungkin, aku wanita yang beruntung mendapatkan Julham?” Ucapku sendiri. Ku segera keluar dari kamar mandi. Dan lagi lagi berpapasan dengan dia. Kutatap matanya. Dia juga menatapku. Kupalingkan wajahku. ku segera berjalan. Tunggu! Dia menahanku!. “Dea, maafin aku ya… Aku, aku masih cinta sama kamu..” Ucapnya. Terserantak aku kaget! Aku gak tau harus bilang apa… “Enggak Wan, enggak… Aku gak bisa nerima kamu lagi!” Kataku dalam hati.
“Udah sayang?” Tanya Julham sesampainya aku disana “Udah” Jawabku seakan tidak terjadi apa apa. Dinnerku berjalan lancar kecuali yang tadi. Ah sudah lupakan! Sampai akhirnya Julham memberiku sepotong kue. Makanan penutup katanya. Aku memakannya. Seperti ada sesuatu. Aku mengambil sesuatu yang mengganjal di mulutku. Ternyata itu sebuah cincin!. “Julham..” Ucapku pelan “Iya Tuan Putri.. Ini cincin untukmu.” Jawabnya mengambil cincin di tanganku dan memakaikannya pada jari manisku “Makasih..” Ucapku “Iya sayang, ini tanda cinta tulusku padamu..” Ucapnya. Aku memeluknya. Sejenak kulihat irwan yang duduk di belakang mejaku dan di belakang bangku Julham selisih 4 meja. Dia terlihat sangat terpukul melihat aku dengan Julham. Tapi aku abaikan. “Jangan meluk mulu dong.. malu..” Ucap Julham mengagetkanku “Eh, hehe maaf… Saking senengnya sih..” Balasku melepas pelukanku. Malam ini, malam terindah dalam hidupku.
Sekarang 2 hari menjelang acara konser musik. Aku, Julham dan sejenak siswa lain menyiapkan konser itu. Aku mengangkat barang barang yang perlu disiapkan. Aku mengelap keringat yang mengucur di dahiku. Melelahkan… “Kalau capek, istirahat aja..” Saran Husna “Enggak kok..” Jawabku. Biarlah, aku kan juga ingin membantu sepenuhnya. Aku mengangkat sebuah kotak untuk dipindahkan ke panggung. Saat aku memegang kotak itu untuk mengangkatnya, Irwan juga memegang kotak itu. “Dea..” Ucapnya lirih. Aku tak kuasa menatapnya. Aku berlari menjauhinya. Dia mengejarku. BRUK.. Aku jatuh di pelukan Julham. “Kamu kenapa?” Tanya Julham. Aku hanya menggelengkan kepala dan tetap memeluknya. “Dea.. Maaf..” Teriakan Irwan melemah saat melihatku berpelukan dengan Julham. “Dea, jadii..” Julham ikut ikuta terdiam. Dia segera melepaskan pelukanku dan menghampiri Irwan. “Maksud lo apa mau nyakitin cewek gue hah?!” Ucap Julham dengan amarah “Maksud gue..” “BBUUKKK” Belum sempat Irwan menjawab pertanyaan Julham, Julham sudah memukulnya. Aku gak bisa melihat semua ini tejadi. Irwan bangkit dan hendak balik memukul Julham. Aku segera menghalanginya dan “BBUUKKK” sebuah hantaman keras terkena kepalaku. Aku pusing.. “Dea, maafin aku, aku gak bermaksud mukul kamu..” Samar samar terdengar suara Irwan. “Lo, lo, arrghh!! (menunjuk Irwan) Dea…” Ucap Julham menggendongku. Dan itu kata kata yang ku dengar. Setelah itu pandanganku gelap.
Aku terbagun di ruang kesehatan sekolah. Di sampingku ada Julham yang setia menunggu. “Dea, Dea, kamu sudah sadar?” Ucapnya. Ternyata aku pingsan!. “Dea, maafin aku.. Gara gara kamu ngelindungin aku, kamu jadi kayak gini..” Lanjutnya sambil memegang tanganku. “Iya Ham, gak papa kok.. Seharusnya kan kita saling melindungi..” Jawabku “Tapi…” “Hushh! Gak ada tapi tapian” Belum sempat menyelesaikan kata katanya sudah dipotong olehku. “Sebenarnya siapa sih dia?” Tanya Julham penarasaran. “Suatu saat, akan aku ceritakan..” Jawabku. Dia hanya menunduk.
Menjelang 1 hari sebelum konser. “Ih, Julham di telpon gak bisa” Ucapku mencemberutkan bibir. Aku hanya diam di kamar. Julham ditelpon gak bisa, SMS gak dibales. Huh!. DRRTTT handphoneku bergetar. Ada SMS..
*Julham*
Maaf ya Sayang aku baru buka Handphone
Hari ini aku harus latihan Band, jadi gak bisa nemenin kamu…
Maaf baget ya sayang,
Emmuuuahhhh :*
Yah, Julham. Daripada aku Badmood mendingan ke danau aja lah.
Sampailah aku di sebuah danau dekat perkarangan rumahku. Aku duduk di salah satu sisi danau dan menceburkan sebagian kakiku di air. Ya, ini yang biasa aku lakukan di lagi Badmood. “Hay..” Sebuah suara menyapaku. Aku lihat, dia Irwan! Karena lagi BT aku abaikan saja. “Maafin aku ya..” Ucapnya lagi “Hmm” Aku hanya berdehem. Dia duduk di sampingku. “Langitnya gak bersahabat ya..” Ucapnya memulai pembicaraan “Ya..” Ucapku singkat. Sampai akhirnya kami mengobrol obrolan ringan. Irwan masih yang seperti dulu, Irwan yang asik.
“BYYUURR” Suara hujan mulai turun. Aku dan Irwan segera berteduh di pohon dekat situ. Dia menatapku. Aku balik menatapnya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Sepertinya kita akan berciuman. Saat bibirnya hampir mendarat di bibirku, bayangan Julham muncul. Aku segera bangkit sebelum itu terjadi. PPLLAKKK! Aku menamparnya. Dia meresapi tamparan itu. Aku berlari di tengah hujan. Dia mengejarku. Aku menangis.. Maafkan aku Julham.. dan BRRUUKK aku tersandung sesuatu. Dengan cepat aku bangkit. Tapi kalah cepat, Irwan sudah menangkapku. Dia memegang kedua lenganku. Dia menatapku, aku memalingkan wajahku. “Dea, aku masih cinta sama kamu.. Maafin aku tentang masa lalu kita…” Ucapnya “Ehm, maaf Wan.. Kamu itu mantan aku.. Aku udah punya Julham.. Aku gak mungkin menghianatinya..” Jawabku. “Tatap mataku! dan bilang KAMU GAK CINTA SAMA AKU..” Ucapnya memaksaku. Aku tak kuasa. Demi menunjukkan kesetiaanku dengan Julham, aku menatap matanya. “Wan, aku gak cinta lagi sama kamu.. Di kehidupanku udah ada Julham, Aku mememilih setia dengan dia.. Dia gak mungkin ninggalin aku, dia cowok yang baik..” Ucapku. Dia melepaskan tangannya dari lenganku. Aku segera berlari. Aku melihatnya sedang menunduk. Percalah.. gak hanya aku cewek di dunia ini..
Konser acara amal tiba. Aku memakai gaun dress warna biru pemberian Julham. Aku ingin terlihat cantik di matanya. “Kamu cantik…” Pujinya. Aku hanya tersenyum. “Kamu mau nyanyi lagu apa?” Tanyaku “Pokoknya, spesial buat kamu..” Jawabnya membuatku penasaran. Akhirnya dia maju dan bersiap bernyanyi. “Ini lagu untuk menghargai cinta kita. Cintaku dan Dea?” Ucap Julham. Aku hanya tersenyum. Julham menyanyikannya dengan sangat bagus. PPROOKK PPRROOKK PPROOKK semua bertepuk tangan saat Julham selesai bernyanyi. Setelah beberapa siswa bernyanyi giliran aku. Aku segera maju ke panggung. “Ini lagu untuk seseorang, aku akan jelaskan setelah lagu ini berakhir..” Jelasku
“Ada banyak cara Tuhan hadirkan Cinta..
Mungkin engkau adalah salah satunya..
Namun engkau datang disaat yang tidak tepat..
Cintaku telah dimiliki..
Inilah akhirnya harus ku akhiri..
Sebelum cintamu, semakin dalam..
Maafkan diriku, memilih setia..
Walaupunku tau cintamu, lebih besar darinya..”
Aku menyanyikan lagu Fatin – Aku memilih setia. Aku nyanyikan lagu itu sebaik mungkin. Mungkin, lagu ini sangat cocok untukku. PPRROOKK PPRROOKK Tepuk tangan setelah aku menyanyikan lagu itu. “Ini lagu untuk Julham dan Irwan. Maafkan aku Irwan, aku gak bisa hidup sama kamu.. Aku memilih setia sama Julham. menurutku, Julham adalah cowok yang baik. Dia tidak akan meninggalkanku tidak sepertimu dulu. Kau hanya masa laluku, Masa depanku adalah Julham. Jadi, aku gak mungkin bersamamu lagi.. Masih banyak cewek selain aku di dunia ini.. Dan Julham, aku sangat mencintaimu. Aku sangat tulus mencintaimu. Aku akan menerimamu apa adanya?” Jelasku. Aku segera turun dari panggung dan memeluk Julham. “Ciyee…” Semua bersorak kepadaku. Kulihat Irwan menundukkan kepalanya, mungkin dia sadar bahwa aku sudah dimiliki orang lain.
Sejak saat itu, Irwan tidak pernah mengejarku lagi. Irwan ternyata sudah punya pacar, Tasya namanya. Ku harap, Irwan setia dengan Tasya. Sementara aku, Aku hidup bahagia dengan Julham. Dan sekarang, aku sedang menyelesaikan kuliah S1 ku. Tahun depan, aku akan menikah dengan Julham. Aku memilih nikah muda. Keburu ada yang naksir aku lagi hihi. Inilah akhir cerita hidupku, semua ini terjadi karena “AKU MEMILIH SETIA”
Cerpen Karangan: Husna Lukitaningtyas